Mengagumi Panorama Kota Madinah bersama Biro Umroh Terpercaya

Posted on

Kecintaanku pada Madinah semakin membuncah. Ingin rasanya agar bisa cepat-cepat ke Madinah. Kawan-kawanku yang lebih dahulu ke Madinah melalui biro umroh murah yang terpecaya menceritakan tentang panorama kotanya yang menyerupai sebuah kota kecil, tetapi masyarakatnya sangat bersahabat dengan para tetamu. Tidak seperti Mekkah yang dalam sejarah disebutkan, bahwa penduduknya relatif angkuh dan kurang bersahabat.

Mengagumi Panorama Kota Madinah bersama Biro Umroh Terpercaya

Madinah adalah kota yang membuat Nabi begitu dekat dengannya. Bahkan, saat Nabi menaklukkan kota Mekkah sekalipun, beliau justru tidak menetap di kota Ka’bah itu, melainkan justru kembali ke Madinah. Dan Madinah merupakan kota tujuan terakhir Nabi dan kota yang amat dicintainya. Sebab itu, kota ini dikenang sepanjang masa oleh umat islam, karena Nabi yang merupakan kebanggaan dan teladan setiap muslim menghabiskan masa-masa akhir hidupnya di Madinah. Aku makin penasaran untuk mengetahui kota Nabi ini. 

Madinah adalah kota yang membuat Nabi begitu dekat dengannya. Bahkan, saat Nabi menaklukkan kota Mekkah sekalipun, beliau justru tidak menetap di kota Ka’bah itu, melainkan justru kembali ke Madinah.

Dan Madinah merupakan kota tujuan terakhir Nabi dan kota yang amat dicintainya. Sebab itu, kota ini dikenang sepanjang masa oleh umat islam, karena Nabi yang merupakan kebanggaan dan teladan setiap muslim menghabiskan masa-masa akhir hidupnya di Madinah.

Aku juga semakin dekat dengan kota itu berkat travel umroh haji bekasi yang mengantarkanku kesana. Apalagi setelah membaca kitab Fiqh al-Sirah, karya Muhammad al-Ghazali. Kitab ini menjelaskan tentang perjalanan dakwah Nabi yang sangat mengharu biru. Perjalanan Nabi ke Madinah diawali dengan penuh kegetiran Karena adanya ancaman dan pengintaian dari kaum pagan Quraysh. Tetapi berkat komitmen dan pertolongan Tuhan, perjalanan tersebut berakhir dengan buah yang sangat manis. Walhasil, Madinah menjadi kota tujuan Nabi (city of destination). Siti Aisyah meriwayatkan perihal awal mula kedatangan Nabi ke Madinah dengan ungkapan yang sangat menarik, jika Mekkah ditaklukan dengan pedang, maka Madinah ditaklukan dengan Al Quran.

Dalam hal ini, aku teringat tesis Mahmudh Thaha, pemikir Muslim asal Sudan, yang menyebutkan Mekkah lebih toleran dan humanis daripada Madinah. Setelah membaca buku Fiqh al-Sirah, karya Muhammad al-Ghazali dan mengetahui riwayat yang dituturkan oleh Aisyah, aku justru mempunyai kesimpulan berbeda dengan tesis tersebut. Justru Madinah jauh lebih toleran dan humanis daripada Mekkah.

Memang ayat-ayat yang turun di Mekkah atau sebelum Nabi melakukan hijrah ke Madinah berisi tentang ungkapan yang didalamnya berisi tentang kemanusiaan universal, tetapi realitas masyarakat dan konteks sosial politiknya sangat tidak bersahabat. Tatkala Nabi melakukan hijrah ke Madinah hal tersebut sudah membuktikan, bahwa Mekkah bukanlah tempat yang nyaman untuk mendakwahkan ajaran Islam yang didalamnya menekankan perdamaian.

Muhammad Jabir al-Anshari dalam al-Taazzum al-Siyasi wa Sosiyulujiyyat al-Islam: Mukawwinat al-Halah al-Muzminah, menegaskan perihal sebuah revolusi yang telah dilakukan Nabi dari Mekkah ke Madinah, yaitu perubahan visi. Dari kultur nomaden (al-badawah) menuju kultur peradaban (al-hadharah). Umar bin Khattab memberikan testimoni yang menarik soal Madinah, “Kota ini merupakan awal dari segala kota. Dan dua tahun setelah itu, Islam membangun peradaban di beberapa kota lainnya, seperti Irak, Suriah, dan Mesir.” Kota-kota yang terakhir itu sebenarnya diinspirasikan oleh kota Madinah, bukan kota Mekkah, karena yang menjadi symbol utamanya adalah peradaban dan keadaban.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *